Layanan kesehatan reproduksi di Indonesia belum merata karena ketimpangan ekonomi dan geografi. Stigma dan akses terbatas pada pengetahuan semakin memperburuk situasi.
Layanan kesehatan reproduksi di Indonesia belum merata karena ketimpangan ekonomi dan geografi. Stigma dan akses terbatas pada pengetahuan semakin memperburuk situasi.
Mengapa keadilan reproduksi?
Dampak kami sejak 2018
Provinsi memiliki pelatih Asuhan Pasca Keguguran
Pelatihan klinis
Penyedia layanan kesehatan terlibat
Peningkatan kapasitas
Perempuan akses layanan
Data per 30 Juni 2025.
Proyek Kekerasan Berbasis Gender dan Sekual (KBGS)
Orang mengakses informasi KBGS
Orang berpartisipasi dalam acara terkait KBGS
Key influencers terlibat
Kasus KBGS ditangani oleh mitra
Orang mengakses layanan
Data per 30 Juni 2025.
Cerita & berita IPAS
Berbincang dengan Dinas Kesehatan NTT Soal Asuhan Pasca Keguguran, Keluarga Berencana dan Proyek TAKENUSA
Sejak 2023, Yayasan IPAS Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Nusa Tenggara Timur untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) serta meningkatkan akses kontrasepsi atau Keluarga Berencana (KB). Kerja sama ini terjalin melalui proyek Tekad Bersama untuk Kesehatan...
Perempuan Merdeka Memilih Kontrasepsi: Cerita dari Mama Mershi di Nusa Tenggara Timur
Mama Mershi Benu (36) memutuskan memilih kontrasepsi mantap atau tubektomi setelah melahirkan anak kelimanya. Sebelumnya, ia menggunakan kontrasepsi suntik lalu beralih ke pil. Hingga kemudian akhirnya memilih kontrasepsi jenis permanen karena ‘kebobolan’ setelah...
Peringati International Youth Day, Orang Muda di Jawa Tengah Suarakan Ruang Aman Bebas dari Kekerasan
Mari kita berani speak up, percayalah pasti punya ruang aman, suarakanlah!,” itulah pesan yang disampaikan oleh Asyifa Azdkiah Haqiqi, panitia kegiatan “We Speak Up Because We Matter: Remaja Berdaya Bebas dari Kekerasan”. Kegiatan ini dilakukan untuk memperingati International Youth Day yang jatuh pada 12 Agustus.
Health Rangers: Sebuah Inisiatif Agar Remaja di Jawa Tengah Merdeka dari Kekerasan
Pada 2024, sebanyak 1.349 anak-anak di Jawa Tengah menjadi korban kekerasan. Dari angka tersebut, kekerasan seksual merupakan jenis kekerasan yang paling tinggi, yakni 746 kasus. Secara nasional, Jawa Tengah menjadi provinsi ketiga dengan kasus kekerasan terhadap anak...
Selamat Jalan Prof. Irwanto
Yayasan IPAS Indonesia kehilangan pendiri sekaligus Ketua Badan Pembina, Prof. Irwanto, Ph.D. Beliau meninggal dunia pada Selasa, 27 Mei 2025, di Jakarta. Rasanya baru kemarin kami meminta Prof. Ir untuk menjadi bagian dari keluarga Yayasan IPAS Indonesia. Tapi momen...
Yayasan IPAS Indonesia Dorong Integrasi Layanan Kekerasan terhadap Perempuan melalui Proyek ARUNIKA
Akses yang komprehensif dan holistik bagi perempuan korban kekerasan merupakan bagian dari Keadilan Reproduksi. Sejak 2018, Yayasan IPAS Indonesia terus bermitra dengan sejumlah pihak untuk mewujudkannya. Salah satu usahanya adalah melalui proyek ARUNIKA (Perempuan...
Yayasan IPAS Indonesia Jadi Narasumber di Grand Lecture National Peer Education Workshop CIMSA
Direktur Eksekutif Yayasan IPAS Indonesia dr. Marcia Soumokil MPH menjadi narasumber Grand Lecture dalam kegiatan National Peer Education Workshop (NPEW) 2025 yang diselenggarakan oleh CIMSA Indonesia pada April 2025 di Yogyakarta. Kegiatan NPEW merupakan agenda dua...
Gubernur Jawa Tengah Dukung Perluasan Model Layanan Komprehensif Bagi Penyintas Kekerasan Seksual untuk Proyek ARUNIKA
Yayasan IPAS Indonesia melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada tanggal 17 April 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan proyek ARUNIKA (Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Bebas Kekerasan). Proyek...
Aborsi, Patriarki, dan Pilihan Perempuan dalam Keadilan Reproduksi
Ditulis oleh Ghera Imroatusshalihah, Pemenang Lomba Menulis Keadilan Reproduksi Yayasan IPAS Indonesia. Kebijakan mengenai aborsi bagi korban kekerasan seksual di Indonesia seolah menjadi angin segar dengan diterbitkannya...











