Ini adalah kisah Hilda, seorang perempuan dari salah satu desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kisah ini menggambarkan bagaimana Hilda bersama perempuan lainnya bekerja keras mengadvokasikan kebutuhan HKSR dalam konteks kebencanaan. Setelah gempa bumi berkekuatan 7,5 SR melanda desa mereka pada tahun 2018, komunitas ini terus menghadapi berbagai bencana terkait perubahan iklim, termasuk banjir.
“Ketika terjadi bencana di desa ini, kebutuhan perempuan sebenarnya tidak terlalu diperhatikan. Orang-orang hanya memikirkan kebutuhan umum. Air bersih dan pembalut bagi perempuan serta remaja putri sangat kurang,” jelas Hilda.
Melalui proyek CERAH (Climate Emergency, Reproductive Rights and Health), Yayasan IPAS Indonesia bermitra dengan organisasi lokal Yayasan Merah Putih (YMP) untuk memperkuat kapasitas perempuan dalam memimpin upaya ketangguhan, khususnya dalam memastikan akses terhadap HKSR saat terjadi bencana.
Minimnya Perencanaan Tanggap Bencana yang Sensitif Gender dalam Penggunaan Dana Desa
Salah satu kepala desa, Ludin, menyampaikan bahwa desanya menerima sekitar Rp25.000.000 per tahun untuk kebutuhan terkait kebencanaan. Namun, ia mengakui bahwa belum terdapat rencana yang jelas mengenai bagaimana dana tersebut seharusnya digunakan. Selama ini, dana tersebut sering digunakan secara insidental, misalnya untuk membantu warga yang sakit.
“Jika terjadi kebakaran, dana itu kami gunakan untuk membantu warga. Atau ketika desa ini terdampak banjir dan bantuan dari pemerintah kabupaten belum datang, dana tersebut kami gunakan untuk menyediakan bantuan seperti beras dan kebutuhan pokok,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa belum merencanakan alokasi dana kebencanaan secara khusus karena keterbatasan pengetahuan.
“Kini saya tertarik untuk mengalokasikan dana ini, terutama bagi kelompok perempuan, setelah mengikuti program CERAH dan sesi peningkatan kesadaran. Perempuan kemudian datang dan menyampaikan kebutuhan mereka, dan dari situlah saya mulai memahami kebutuhan tersebut,” katanya.
Dana Desa sebagai Peluang
Hilda dan kelompok perempuan memandang situasi ini sebagai sebuah peluang. Ia merupakan salah satu perempuan yang menyampaikan langsung kebutuhan mereka kepada kepala desa, sekaligus terlibat dalam musyawarah perencanaan dana desa.
“Sebenarnya pemerintah desa tidak menutup pintu untuk penggunaan dana desa. Masalahnya selama ini perempuan tidak bersuara. Kami menjadi berani menyampaikan pendapat karena sudah memiliki pengetahuan tentang kebencanaan dan HKSR dari kegiatan-kegiatan YMP,” ujarnya.
Kisah Hilda menunjukkan bahwa perubahan memang membutuhkan waktu, tetapi selalu dimulai dari keberanian perempuan untuk bersuara. Dengan menyampaikan kebutuhan mereka dan terlibat dalam diskusi desa, perempuan perlahan memastikan bahwa suara mereka didengar dalam perencanaan kebencanaan.
