Workshop Sistem Peringatan Dini bagi Masyarakat untuk Memperkuat Ketangguhan Layanan Kesehatan saat Bencana di Sigi dan Donggala

Juli 13, 2026

Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) merupakan salah satu elemen penting dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Sistem ini merujuk pada mekanisme dan langkah-langkah yang perlu dilakukan masyarakat ketika terdapat tanda-tanda terjadinya bencana.

Melalui Proyek CERAH, Yayasan IPAS Indonesia berupaya memperkuat ketangguhan sistem layanan kesehatan, baik dalam situasi bencana maupun kondisi normal, di tiga kabupaten di Sulawesi Tengah, yaitu Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong.

Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah mengintegrasikan EWS ke dalam layanan puskesmas sebagai fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Dalam situasi bencana, akses terhadap layanan kesehatan sangat penting dan harus tetap tersedia meskipun di tengah keterbatasan fasilitas maupun sumber daya.

Workshop penguatan EWS ini dilaksanakan di Kabupaten Sigi pada 21-23 Mei 2026 dan melibatkan empat desa. Kegiatan serupa kemudian dilaksanakan di Kabupaten Donggala pada 5–7 Juni 2026 dengan jumlah desa yang sama. Sementara itu, workshop di Kabupaten Parigi Moutong terpaksa ditunda akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026.

Workshop ini membahas berbagai jenis bencana yang kerap terjadi di desa-desa tersebut melalui proses pemetaan risiko. Selain itu, masyarakat juga diajak mengidentifikasi sumber daya yang tersedia untuk mengembangkan sistem peringatan dini di tingkat desa. Salah satu contoh yang muncul adalah pemanfaatan pengeras suara masjid sebagai media penyebaran peringatan ketika terjadi bencana.

Salah satu peserta sekaligus warga Desa Tongoa, Kabupaten Sigi, Dewi, mengaku baru menyadari bahwa desanya memiliki risiko banjir yang cukup tinggi, terutama saat hujan deras. “Kami jadi sadar tidak boleh membuang sampah sembarangan karena saat banjir, sampah bisa terbawa dan meluap hingga ke rumah tetangga,” ujarnya.

Sementara itu, peserta lainnya, Melisa, merasa workshop ini meningkatkan kesadarannya tentang dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan di desanya. Menurutnya, kegiatan ini juga memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai kesiapsiagaan bencana. “Dulu kalau ada gempa, kami langsung lari.

Workshop ini masih merupakan tahap awal dalam penyusunan sistem peringatan dini. Setelah proses pemetaan risiko bencana dan identifikasi sumber daya selesai dilakukan, masyarakat akan difasilitasi untuk menyusun dokumen EWS yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di masing-masing desa. Tahapan berikutnya meliputi uji coba sistem, diseminasi hasil uji coba, serta pembahasan mengenai integrasinya dengan layanan kesehatan. Setelah seluruh proses tersebut selesai, dokumen EWS akan difinalisasi.