Gempa bumi magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026. Puskesmas Nokilalaki yang terletak di Kabupaten Sigi merupakan salah satu gedung yang terdampak. Atap di bagian layanan dan juga ruang administrasi ambrol. Di tengah situasi itu, layanan kesehatan terutama kesehatan reproduksi tetap harus berjalan.
Kepala Puskesmas Nokilalaki, Muzna, S.Kep., Ners, masih terlibat dalam sesi pelatihan penyusunan dokumen untuk layanan kesehatan kebencanaan di Palu saat gempa terjadi. Ditambah lagi, saat itu puskesmas tutup karena libur. Ia melakukan koordinasi jarak jauh dengan staf dan dinas terkait untuk menyiapkan layanan tetap berjalan dengan kondisi sinyal komunikasi tersendat.
“Saya lalu izin meninggalkan pelatihan. Saat itu wakil gubernur Sulawesi Tengah sudah ada di sana, sudah ada sembilan pasien. Mereka diamankan di rumah warga yang memiliki teras luas. Malam itu, semua pasien sudah ditangani dan sudah dirujuk,” kenang Muzna.
Ia menambahkan untuk tenda layanan pasien umum sudah berdiri sejak di hari kedua setelah gempa. Kemudian, untuk tenda khusus kesehatan reproduksi (kespro), baru didirikan pada 19 Juni. Hal itu setelah berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Kesehatan.
“Ada suami yang bilang ke bidan kami, istrinya yang sedang hamil mengeluh sakit perut. Kami jemput menggunakan ambulans lalu dibawa ke tenda kespro. Dari hasil USG belum ada tanda-tanda mau melahirkan, kami pulangkan terlebih dahulu,” imbuhnya.
Kemudian, layanan kontrasepsi juga sudah ada di dalam tenda tersebut. Empat akseptor memilih metode kontrasepsi suntik. “Mungkin masih malu pasang IUD karena tenda kespronya terlalu besar, kami sudah buatkan sekat kamar,” ujarnya.
Selain mendirikan tenda darurat, Puskesmas Nokilalaki juga melakukan kunjungan ke desa-desa yang terdampak parah. Ada dua desa yang terdampak parah yang menjadi wilayah kerjanya. Warga memang belum ke puskesmas karena jalannya rusak.
“Kami mengunjungi warga karena mereka tidak ada tenda. Ada bayi yang kakinya terkilir, kami ke sana. Ada juga warga lanjut usia yang membutuhkan pertolongan. Kami juga menyiapkan ambulans,” tegas Muzna.
Muzna pernah menghadapi gempa pada 2023. Kala itu skalanya lebih kecil daripada sekarang. Meksi begitu, warga tetap tak mau tinggal di rumah karena trauma gempa yang terjadi pada tahun 2018.
“Saat 2023 itu, kami hanya menunggu dari dinas kesehatan untuk membuat posko. Tapi setelah pelatihan dari IPAS, kami bertanggung jawab melakukan komunikasi kepada staff dan juga lintas sektor,” kenangnya.
Melalui proyek CERAH yang diluncurkan Yayasan IPAS Indonesia pada November 2024, Muzna dan staf puskesmasnya pernah mengikuti pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan, penyusunan dokumen DRMP (Disaster Risk Management Plan), dan juga simulasi DRMP. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memperkuat layanan kesehatan primer terutama untuk kesehatan reproduksi.
“Jadi kami belajar, puskesmas itu perlu dibekali dengan ilmu kebencanaan. Kami bersyukur atas ilmunya dari Yayasan IPAS Indonesia,” ujarnya.
Dikutip dari rilis BNPB, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Selasa (23/6) pukul 24.00 waktu setempat, telah terjadi 1.349 kali gempa susulan sejak gempa utama pada 16 Juni 2026.
Data sementara dampak gempa di Kabupaten Sigi 24 Juni 2026 tercatat sebanyak 3.600 kepala keluarga atau 9.609 jiwa terdampak. Seluruh korban luka telah mendapatkan penanganan dan saat ini dilaporkan telah pulih serta kembali beraktivitas di rumah masing-masing.
