AVM merupakan prosedur medis yang digunakan untuk mengeluarkan sisa hasil konsepsi dari rahim menggunakan alat vakum manual dalam layanan keguguran. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mekomendasikan metode ini sebagai tindakan yang aman dan efektif dalam penanganan keguguran.
Salah satu peserta, Tiara, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan. Menurutnya, materi yang paling menarik adalah pemahaman mengenai indikasi keguguran serta teknik memasan dan melepas AVM yang tepat.
“Hal yang menarik dari pelatihan ini adalah cara pelepasan alatnya dan bagaimana melihat indikasi keguguran. Nantinya ilmu ini juga bisa kami praktikkan saat bertemu ibu hamil di lapangan. Sangat bermanfaat, terutama bagi dokter umum,” ujar Tiara.
“Kami belajar bagaimana memahami kondisi dan pemahaman pasien terlebih dahulu. Setelah itu, kami diajarkan cara berkomunikasi yang tidak terkesan menggurui,” katanya.
Arden juga menambahkan bahwa materi yang diberikan sangat relevan dengan praktiknya di masa depan sebagai dokter umum. Ia menjelaskan bahwa penanganan abortus pada usia kehamilan di bawah 10 minggu merupakan kompetensi yang wajib dikuasai oleh dokter umum.
“Sebagai dokter umum, penanganan abortus di bawah 10 minggu itu merupakan kompetensi empat. Artinya, dokter umum harus menangani kasus tersebut sampai selesai. Melalui pelatihan ini, kami memperoleh tambahan pengetahuan dan pemahaman mengenai teknologi serta pendekatan yang dapat digunakan dalam pelayanan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu narasumber pelatihan, dr. Ayu, mengungkapkan bahwa para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Ia menilai tingginya minat peserta muncul karena sebagian besar peserta baru pertama kali mendapatkan materi tentang AVM secara mendalam.
“Pelatihan AVM memang membahas isu yang cukup sensitif, sehingga penyampaiannya selalu disesuaikan dengan kompetensi peserta. Untuk mahasiswa program pendidikan dokter, yang terpenting adalah memberikan pemahaman dasar dan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan mereka saat ini,” jelas dr. Ayu.
Melalui pelatihan ini, Yayasan IPAS Indonesia berharap mahasiswa kedokteran memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dalam penanganan keguguran yang aman. Selain itu, para peserta diharapkan mampu memberikan pelayanan ksehatan yang berkualitas, berpusat pada pasien, serta menghormati kebutuhan perempuan.
