Mereka saling belajar dan berbagi pengetahuan mengenai isu serta akses kesehatan reproduksi. Para peserta juga antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan dan sosialisasi mengenai Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (KtPA).
Salah satu sesi yang paling menarik adalah talkshow yang menghadirkan perspektif orang muda mengenai pengalaman dan pandangan mereka terkait hak kesehatan reproduksi, serta bagaimana mereka membicarakan isu KtPA di lingkungan sekitar. Salah satu narasumber dari Tenggara Youth Community, Ilta Tafuli, mengatakan bahwa orang muda perlu aktif menyebarkan informasi dan pengetahuan agar semakin banyak remaja yang memahami isu tersebut.
“Melalui kegiatan ini, saya berharap remaja semakin memahami pentingnya menjaga diri, mengenali batasan dalam relasi, serta berani bersuara ketika mengalami atau menyaksikan kekerasan berbasis gender,” ujar Ilta.
Selain kelompok orang muda, sejumlah perangkat daerah di Kabupaten TTS seperti Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Salah satu hal yang dibahas adalah pentingnya kolaborasi dan penyediaan ruang aman bagi orang muda agar terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan.
Perwakilan dari DP3A juga memberikan sosialisasi terkait pencegahan dan penanganan KtPA. Dalam sesi tersebut, DP3A memperkenalkan aplikasi yang dapat digunakan remaja atau masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan maupun memperoleh informasi dan layanan pendampingan.
Sementara itu, Dinas Kesehatan memberikan layanan pemeriksaan malaria, distribusi tablet tambah darah, serta pemberian vaksin tetanus kepada peserta.
Salah satu peserta, Nora Zaidi dari Desa Sunu, mengatakan bahwa jambore ini membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga kesehatan, memahami nilai-nilai kehidupan, serta menjadi agen perubahan di komunitasnya.
“Saya berharap ilmu yang diperoleh dapat diteruskan kepada teman sebaya dan masyarakat, sehingga semakin banyak remaja yang tumbuh sehat, berdaya, dan mampu mengambil keputusan yang tepat untuk masa depannya,” ujar Nora.
Peserta lainnya, Yute Selan, menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan, menghargai diri sendiri, dan saling mendukung dalam komunitas.
“Saya berharap semangat dan pembelajaran yang diperoleh dapat diterapkan serta dibagikan kepada teman sebaya, sehingga semakin banyak remaja yang tumbuh sehat, berpengetahuan, dan berdaya,” ujar Yute.
Jambore ini merupakan bagian dari proyek Sahabat Remaja Sehat yang dilaksanakan di tujuh kecamatan di dua kabupaten (TTS dan Flores Timur), Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan tujuan meningkatkan akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi bagi orang muda, sekaligus memperkuat upaya pencegahan kekerasan berbasis gender di tingkat komunitas.
