“Kalau bidan yang belum melakukan pelatihan, itu tidak disarankan untuk melakukan pemasangan implan atau IUD. Jadi prinsip saya juga, saya belum dilatih, saya belum mau melakukannya. Kalau misalnya tanpa dilatih terus ada efek samping itu bagaimana,” ujar Prischilia.
Kisah Prischilia mencerminkan tantangan yang masih dihadapi banyak tenaga kesehatan di wilayah kepulauan Indonesia, termasuk di Kabupaten Maluku Tengah. Di daerah yang terdiri dari pulau-pulau terpisah ini, akses perempuan terhadap layanan kontrasepsi seringkali terhambat karena terbatasnya jumlah penyedia layanan yang memiliki keterampilan untuk memberikan kontrasepsi, khususnya Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti implan dan IUD.
Padahal, akses terhadap kontrasepsi yang berkualitas sangat penting dalam membantu perempuan merencanakan kehamilan, menjaga kesehatan reproduksi, dan menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan hidup mereka.
Siti Amina Yanwarin, observer pelatihan sekaligus Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Kesehatan Maluku Tengah, menegaskan bahwa kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan untuk layanan kontrasepsi masih sangat besar.
“Dari estimasi kami, jumlah bidan di Maluku Tengah sekitar 400 orang dan pada umumnya belum dilatih soal kontrasepsi. Jadi memang masih perlu peningkatan kapasitas,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi perempuan tidak berhenti pada ketersediaan tenaga kesehatan yang terlatih. Setelah mendapatkan informasi dan layanan, keputusan untuk menggunakan kontrasepsi sering kali juga dipengaruhi oleh dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.
“Kadang suaminya tidak mau karena anaknya baru satu. Kalau soal IUD, ada pasien yang bilang suaminya tidak setuju. Ada juga yang berpikir bahwa ada benda di dalam rahim, jadi mereka memang tidak mau,” tambah Elen.
Melalui pelatihan ini, para bidan seperti Prischilia dan Elen memiliki kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri dalam memberikan layanan kontrasepsi. Dengan semakin banyak tenaga kesehatan yang terlatih, semakin banyak pula peluang perempuan di Maluku untuk memperoleh layanan kesehatan reproduksi yang berkualitas, kapan pun dan di mana pun mereka membutuhkannya.
