Setelah 25 Tahun Menjadi Bidan, Priscilla Baru Belajar Pasang KB Spiral

Agustus 17, 2026

Selama 25 tahun menjadi bidan, Prischilia Lekatompessy telah membantu banyak perempuan mendapatkan layanan kesehatan di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Namun ada satu keterampilan yang belum pernah ia lakukan, yakni memasang kontrasepsi implan maupun IUD (intrauterine device) atau biasanya dikenal dengan istilah KB spiral. Bukan karena ia tidak ingin, melainkan karena ia belum pernah mendapatkan pelatihan yang memadai.

“Kalau bidan yang belum melakukan pelatihan, itu tidak disarankan untuk melakukan pemasangan implan atau IUD. Jadi prinsip saya juga, saya belum dilatih, saya belum mau melakukannya. Kalau misalnya tanpa dilatih terus ada efek samping itu bagaimana,” ujar Prischilia.

Kisah Prischilia mencerminkan tantangan yang masih dihadapi banyak tenaga kesehatan di wilayah kepulauan Indonesia, termasuk di Kabupaten Maluku Tengah. Di daerah yang terdiri dari pulau-pulau terpisah ini, akses perempuan terhadap layanan kontrasepsi seringkali terhambat karena terbatasnya jumlah penyedia layanan yang memiliki keterampilan untuk memberikan kontrasepsi, khususnya Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti implan dan IUD.

Padahal, akses terhadap kontrasepsi yang berkualitas sangat penting dalam membantu perempuan merencanakan kehamilan, menjaga kesehatan reproduksi, dan menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan hidup mereka.

Untuk membantu menjawab tantangan tersebut, Yayasan IPAS Indonesia melalui Program ARUMBAE (Perempuan Mampu dan Berdaya untuk Bebas dari Kekerasan) melatih 25 bidan dari lima puskesmas di Kabupaten Maluku Tengah, dari 30 Juli hingga 16 Agustus 2026. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan agar semakin banyak perempuan dapat mengakses layanan kontrasepsi yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Siti Amina Yanwarin, observer pelatihan sekaligus Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Kesehatan Maluku Tengah, menegaskan bahwa kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan untuk layanan kontrasepsi masih sangat besar.

“Dari estimasi kami, jumlah bidan di Maluku Tengah sekitar 400 orang dan pada umumnya belum dilatih soal kontrasepsi. Jadi memang masih perlu peningkatan kapasitas,” ujarnya.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi perempuan tidak berhenti pada ketersediaan tenaga kesehatan yang terlatih. Setelah mendapatkan informasi dan layanan, keputusan untuk menggunakan kontrasepsi sering kali juga dipengaruhi oleh dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.

Dalam sesi pelatihan itu, para bidan kerap memberikan pengalaman yang serupa soal dukungan keluarga. Misalnya, Bidan Elen Zusana Taihuttu mengatakan sebagian perempuan tidak mendapatkan dukungan dari pasangan atau keluarga. Ada pula yang masih percaya mitos tentang metode kontrasepsi tertentu.

“Kadang suaminya tidak mau karena anaknya baru satu. Kalau soal IUD, ada pasien yang bilang suaminya tidak setuju. Ada juga yang berpikir bahwa ada benda di dalam rahim, jadi mereka memang tidak mau,” tambah Elen.

Melalui pelatihan ini, para bidan seperti Prischilia dan Elen memiliki kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri dalam memberikan layanan kontrasepsi. Dengan semakin banyak tenaga kesehatan yang terlatih, semakin banyak pula peluang perempuan di Maluku untuk memperoleh layanan kesehatan reproduksi yang berkualitas, kapan pun dan di mana pun mereka membutuhkannya.